Hibah Dalam Pandangan Islam [Pengertian, Syarat, Jenis, Dll]

Hibah – membantu sesama dengan memberikan sebagian harta yang dimiliki kepada orang lain merupakan salah satu kedermawanan yang luar biasa yang memiliki nilai pahala yang sangat tinggi tentunya jika dikerjakan dengan niat yang ikhlas.

Oleh karena itu, tidak sedikit dari masyarakat berlomba-lomba untuk mengeluarkan sebagian hartanya untuk membatu sesama. Baik secara langsung atau melalui organisasi-organisasi sosial.

Salah satu bentuk atau cara orang dalam berbagi dan membatu sesama adalah dengan jalan hibah.

Pengertian Hibah 

pengertian hibah
Hibah via pxhere.com

Hibah adalah sebuah proses atau cara seseorang memberikan harta kepada pihak lain yang dilakukan sewaktu masih hidup dan pelaksanaan pembagiannya biasanya dilakukan seseorang waktu masih hidup.

Biasanya pemberian-pemberian tersebut tidak akan pernah ditolak oleh sanak keluarga yang tidak menerima pemberian itu, sebab  pada dasarnya seseorang pemilik harta kekayaan berhak dan leluasa untuk memberikan harta bendanya kepada siapapun.

Salah satu syarat dalam hukum waris yaitu adanya proses pewarisan adalah adanya seseorang yang meninggal dunia dan meninggalkan sejumlah harta kekayaan.

Sedangkan dalam hibah itu sendiri, seseorang pemberi hibah itu harus orang yang  masih hidup pada saat pelaksanaan pemberian.

Hibah dalam islam

Hibah menurut hukum islam yatu memberikan wewenang pada seseorang untuk memberikan sebagian atau seluruhnya harta kekayaan ketika masih hidup kepada orang lain.

Di dalam hukum islam Jumlah Harta seseorang untuk pemberian semacam ini tidak memiliki batasan tertentu. Berbeda dengan pemberian seseorang dengan menggunakan surat wasiat yang terbatas hanya sepertiga dari harta peninggalan yang bersih.

Rukun Dan Syarat Hibah

rukun dan syarat hibah
rukun dan syarat hibah via pxhere.com

Rukun Hibah

Ibn Rusyd dalam Bidayahal-Mujtahid menjelaskan bahwa rukun hibah ada tiga, yaitu:

  • Orang yang menghibahkan (al-wahib).
  • Orang yang menerima hibah (al-mauhublah).
  •  Pemberiannya (al-hibah).

Berkaitan dengan amalan ini, terdapat beberapa hal yang harus anda perhatikan yaitu :

  • Hibah merupakan sebuah perjanjian sepihak yang dilakukan oleh pemberi ketika hidupnya untuk memberikan sesuatu barang dengan cuma-cuma kepada penerima.;
  • Hibah wajib dilakukan antara dua orang yang masih hidup;
  • Hibah wajib dilakukan dengan akta notaris, apabila tidak menggunakan akta notaris, maka hibah dinyatakan batal;
  • Hibah antara suami dengan isteri selama dalam perkawinan dilarang, hanya jika objeknya adalah benda-benda bergerak yang harganya tidak terlampau mahal.

Syarat Hibah

Ada tiga syarat yang harus dipenuhi dalam hal melakukan Hibah Menurut Hukum Islam, yaitu :

  • Ijab, merupakan pernyataan tentang pemberian tersebut dari pihak yang memberikan;
  • Qabul, merupakan pernyataan dari pihak yang menerima;
  • Qabdlah, merupakan sebuah penyerahan milik itu sendiri, baik penyerahan dalam bentuk yang sebenarnya maupun secara simbolis.

Bentuk Pemberian Hibah

Hibah Menurut Hukum Islam bisa dilakukan dalam bentuk tertulis maupun lisan, bahkan telah ditetapkan dalam Hukum Islam, pemberian yang berupa harta tidak bergerak dapat dilakukan dengan lisan tanpa mempergunakan suatu dokumen tertulis.

Namun apaibla ditemukan bukti-bukti yang cukup terkait adanya peralihan hak milik, maka pemberian tersebut dapat dinyatakan secara tertulis.

Jika pemberian tersebut dilakukan secara tertulis, terdapat 2 bentuk macam yaitu :

  • Bentuk tertulis yang tidak perlu didaftarkan, jika isinya hanya berupa pernyataan  bahwa telah terjadinya pemberian;
  • Bentuk tertulis yang perlu didaftarkan, jika surat tersebut adalah suatu alat dari penyerahan pemberian itu sendiri.

Maka apabila penyerahan dan pernyataan terhadap benda yang bersangkutan kemudian disusul oleh dokumen resmi tentang pemberian, maka hal itulah yang harus didaftarkan.

Syarat Pemberi Hibah

Seseorang yang ingin menghibahkan sebagian atau seluruh harta kekayaannya semasa hidupnya, menurut Hukum Islam wajib memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :

  • Orang tersebut telah dewasa.
  • Waras akan pikirannya.
  • Sadar dan mengerti tentang apa yang diperbuatnya.
  • Laki-laki dan perempuan diperbolehkan melakukan hibah.
  • Perkawinan tidak menjadi suatu penghalang untuk melakukan hibah.

Tidaklah ada persyaratan tertentu bagi pihak yang akan menerima pemberian, sehingga objek pemberian dapat saja diberikan kepada siapa saja dengan beberapa pengecualian sebagai berikut :

  • Bila hibah terhadap anak di bawah umur atau orang yang tidak waras akal pikirannya, maka harus diserahkan kepada wali yang sah dari anak di bawah umur atau orang yang tidak waras tersebut.
  • Bila hibah dipegang anak di bawah umur yang diwakili oleh saudaranya yang laki-laki atau oleh ibunya, hibah tersebut batal.
  • Hibah terhadapat seseorang yang belum lahir juga batal.

Dalil hibah

Hibah menurut para Ulama ahli fikih, yang disampaikan oleh syaikh Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah dengan ungkapan:

Pemberian sebuah harta secara cuma-cuma dalam keadaan hidup dan sehat. [Minhâjus Sâlikin, hlm 175].

Jenis-jenis Hibah

hibah dan jenis-jenisnya
jenis-jenis hibah via pxhere.com

1. Hibah Biasa

Hibah merupakan hadiah. Hakikatnya, hibah merupakan satu transaksi yang mudah. Ada pemberi, ada penerima dan ada barang.

Dalam konteks ini, pemilik harta hendak memberikan harta kepada seseorang. Harta itu bisa saja dalam bentuk rumah, tanah-tanah atau ladang-ladang.

Sudah pasti, hibah ialah sesuatu yang perlu diberi dalam keadaan kedua-duanya masih hidup. Bagaimana hibah biasa ini dilakukan?

Contohnya, seorang bapa mempunyai tanah 5 hektar serta ia ingin memberikan kepada anaknya. Maka ia hendaknya pergi ke pejabat tanah, dan mengurus semuanya.

2. Hibah Amanah

Hibah amanah adalah hibah yang terdiri dari 4 perkara yaitu, pemberi, pemegang amanah, penenrima dan barang hibah.

Sebagai contoh yaitu seorang bapak yang ingin memberi tanah dan rumah kepada anaknya. Namun kalau diberi terus, anaknya akan gelap mata dan tidak tahu dalam mengurus harta tersebut.

Karenanya bapaknya memberikan mandat kepada seseorang untuk menjaga dan memberitahukan anaknya hal tersebut.

Menguruskan semua resiko yang bisa saja terjadi selanjutnya. Sewaktu-waktu ketika sang baak meninggal dunia maka si pemegang amanah akan memberikan harta sang bapak kepada sang anak dan memberithukannya.

3. Hibah Bersyarat

Hibah bersyarat merupakan hibah yang khusus dan istimewa untuk takaful saja. Hibah bersyarat tidak boleh dilakukan untuk harta rumah, harta tunai, ladang-ladang maupun kendaraan.

Hibah Bersyarat ada 2 yakin hibah Umra dan Rugba.

Hibah Umra

Hibah Umra adalah hibah yang diberikan semasa hidup penerima atau pemberi hibah dengan syarat harta tersebut dikembalikan ketika kematian menjumpai penerima.

Hibah umra merupakan pemberian yang bersifat sementara yang merujuk kepada hayat salah seorang sama ada pemberi hibah atau penerima hibah.

Sekiranya pihak penerima meninggal dunia maka harta tersebut yang dihibahkan itu dikembalikan kepada pemberi.

Sebaliknya, jika pihak pemberi meninggal dunia maka harta hibah akan dikembalikan kepada penerima waris pemberi hibah.

Contoh hibah Umra yaitu seperti pemberi hibah berkata:

“tanah ini aku berikan (hibahkan) kepada kamu semasa kamu hidup dan jika kamu mati maka tanah itu kembali kepada aku jika aku masih hidup dan kepada waris aku jika aku telah mati”.

Hibah Rugba

Hibah Ruqba merupakan sebuah harta pemberian dengan syarat kematian salah satu pihak ada pemberi hibah atau penerima hibah sebagai syarat pemilikan kepada salah satu pihak yang hidup.

Hibah Ruqba ialah pemberian bersyarat yang ditentukan oleh pemberi hibah, di mana harta hibah akan menjadi milik penerima hibah sekiranya pemberi hibah meninggal dunia.

Tetapi jika penerima hibah telah meninggal dunia sebelum pemberian hibah maka harta hibah akan kembali kepada pemberi hibah.

Contoh hibah ruqba adalah seperti pemberi berkata: 

“tanah ini aku berikan kepada kamu sebagai ruqba dan jika kamu mati dulu maka harta itu kembali kepadaku dan jika aku mati dulu maka harta itu untuk kamu”.

Ada perbedaan pandangan di kalangan para ulama tentang hibah umra dan hibah ruqba.

Mazhab yang mengatakan hibah ‘umra dan hibah ruqba tidak diharuskan adalah dengan berpandukan kepada hadis Rasulullah SAW:

Yang berbunyi: tidaklah diperbolehkan kepada kamu memberikan sebuah hibah dengan cara umra atau ruqba. (Muslim) Sahih Muslim, kitab al-hibat, hadis no. 4202.

Mazhab yang mengharuskan hibah ‘umra dan hibah ruqba pula berbunyi:

 “(Hibah) ‘umra dan ruqba merupakan hiah yang diharuskan bagi mereka”. Sunan Abi Daud, bab man qala fihi wa li.aqibihi, hadis no. 3556.

***

Demikianlah ulasan singkat seputar Hibah. Semoga dapat menambah khasanah pengetahuan anda. Semoga bermanfaat. Terima Kasih.

Leave a Comment