Ensiklopedia Nikah [ hukum, Manfaat, rukun nikah , dll ]

Hukum dan Rukun nikah – Halo sobat toriolo, apa kabar?. Disini ada ngga sih yang masih sekolah atau masih kuliah?. Boleh tahu dong dah semester berapa?.

Soalnya nih yah, mimin kan udah semester 7 nih artinya kan bentar lagi bakalan wisuda. Nah sialnya pertanyaan tuh datang silih berganti kayak pergantian musim. Hari ini misalnya orang-orang akan bertanya “eh kamu kapan wisudanya?”.

Dih bertanya seakan kuliah itu gampang, yang lebih parah lagi adalah ketika mereka bertanya hal yang aduh banget, misalnya “kamu kapan nikah?”, “kamu kapan lamar doi?”, “alamat aku jangan lupa yah?”.

Waduh mudah banget yah, mulut orang-orang sekarang ngucapin kata nikah itu. Kalo mimin sih ngga apa-apa juga sih menikah di usia muda tapi kalo niatnya cuman mau ikut tren doang, gimana?

Kali ini kita akan bahas masalah pernikahan nih, biar kalian nyiapin diri sebaik mungkin untuk menghadapi si penghulu.

Pengertian Nikah

hukum dan rukun nikah
pixabay.com/aiilolo

Pengertian Nikah menurut bahasa yaitu menyatu atau terkumpul.

Berdasarkan istilah bisa berarti juga akad nikah atau ijab qobul yang mengharuskan sebuah hubungan yang terjadi sepasang manusia diucapkan dengan kata-kata dan ditujukan agar melanjutkan hubungan untuk membina rumah tangga, berdasarkan peraturan agama Islam.

Adapun kata zawaj dari Al-Quran ini yaitu pasangan yang pada penggunaannya bisa diartikan sebagai sebuah pernikahan, dimana Allah menjadikan manusia untuk berpasang-pasangan, dengan menghalalkan pernikahan serta mengharamkan yang namanya Perbuatan Zina.

Hukum Nikah

Selain pengertian nikah diatas, sebagai umat Muslim kita wajib mengetahui bagaimana Hukum dan rukun nikah dalam Islam.

hukum pernikahan
pixabay.com/CommanderClive

Sebenarnya, Islam sangat menganjurkan setiap umatnya yang telah mampu menikah. Akan tetapi, dalam beberapa kondisi hukum nikah terbagi menjadi 5 macam, diantaranya:

Hukum Nikah “Wajib”

Hukum menikah menjadi wajib bagi orang yang bisa atau mampu melakukan pernikahan, yang dimana jika tidak menikah maka ia pun akan terjerumus pada perzinaan.

Hal ini berdasarkan oleh sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:

”Wahai golongan pemuda, apabila ada di antara dirimu yang telah cukup biaya (mapan) maka sebaiknya hendaklah menikah. karena sesungguhnya pernikahan itu akan menghalangi pandangan (pada apa yang dilarang agama) dan juga untuk menjaga kehormatan. Barang siapa belum sanggup mengerjakannya, sebaiknya hendaklah berpuasa. Sebab puasa merupakan perisai baginya.” (HR.Bukhari Muslim).

Hukum Nikah “Sunnah”

Hukum menikah menjadi sunah bagi mereka yang memiliki keinginan dan dirinya yang memiliki biaya dengan begitu bisa memberikan nafkah untuk istrinya beserta keperluan yang lainnya yang wajib dipenuhi kelak.

Hukum Nikah “Makruh”

Selain wajib dan sunah, hukum menikah juga dapat bersifat makruh bagi orang yang tak mampu melakukan pernikahan sebab tak bisa memberikan belanja atau nafkah pada istrinya maupun kemungkinan yang lainnya yakni lemah syahwat.

Hal ini berdasar pada firman dari Allah SWT yang berbunyi:

“Hendaklah kalian bisa menahan diri karena tak memiliki biaya untuk menikah, sampai Allah mencukupkan sebagian Karunia-Nya.” (An-Nuur/24:33).

Hukum Nikah “Mubah”

Hukum menikah selanjutnya ialah mubah untuk orang yang tak terdesak beberapa hal yang mewajibkannya untuk segera menikah maupun yang telah mengharamkannya.

Hukum Nikah “Haram”

Dan yang terakhir, hukum menikah ialah haram jika seseorang yang hendak menikahi karena niat menyakiti atau menyia-siakan istrinya.

Adapun hukum haram tersebut juga ditujukan kepada orang yang tak memiliki kemampuan membelanjakan sang istri atau mencukupi kebutuhan istri, sementara nafsunya tak mendesak.

Manfaat Pernikahan Dalam Islam

hukum dan manfaat menikah
wikipedia.org

Terdapat banyak sekali manfaat yang didapatkan dari pernikahan. Dimana, pernikahan adalah sebuah cara yang suci dan halal dalam menyalurkan nafsu tanpa perzinaan maupun pelacuran atau sejenisnya yang sangat di benci oleh Allah yang tentunya sangat merugikan.

Dengan menikah mampu mendapatkan ketenangan hidup, ketenteraman dan kasih sayang.

Menikah mampu menjaga kesucian diri serta melakukan tuntutan sesuai syariat, menciptakan keturunan yang bermanfaat baik untuk agama, bangsa maupun negara.

Bisa dijadikan sebagai media edukasi, dimana agama Islam sendiri sangat teliti dalam menyediakan lingkungan sehat agar bisa membesarkan anak.

Sekiranya anak yang telah dibesarkan tanpa kehadiran orang tua bisa memudahkan mereka terjerumus pada segala perbuatan yang tak bermoral.

Oleh karena itu, keluarga atau institusi dari kekeluargaan sangat direkomendasikan Islam untuk mendidik dan menciptakan anak-anak yang sholeh/sholehah yang tentunya diawali dengan pernikahan yang sesuai dengan hukum dan rukun nikah yang telah ditetapkan.

 

Rukun Nikah

rukun nikah dalam islam
pixabay.com/aiilolo

Setelah mengetahui hukum nikah dan manfaatnya, hal selanjutnya yang perlu anda ketahui adalah hal rukun nikah.

Nikah memiliki beberapa rukun yang wajib dipenuhi di dalam sebuah pernikahan.

Hilangnya salah satu rukun, maka tentu saja pernikahannya tidak sah atau batal. Sangat disayangkan jika terjadi hal yang demikian, sehingga rukun nikah tersebut harus benar-benar dipahami.

Berikut adalah beberapa rukun nikah yang wajib dipenuhi tersebut.

1. Rukun Nikah: Shighat atau Ijab Qabul

Rukun nikah yang pertama ialah shighat atau yang lebih dikenal dengan istilah ijab qabul. Ijab adalah suatu persyaratan wali di dalam menyerahkan mempelai wanita kepada sang mempelai prianya.

Sedangkan qabul adalah pernyataan dari mempelai pria di dalam menerima suatu ijab sebagai bukti bahwa kedua belah pihak sudah rela.

Ulama telah sepakat bahwa ijab qabul menjadi rukun dari sebuah pernikahan.

Rukun Ijab Qabul

Seperti rukun-rukun lainnya, ijab qabul juga memiliki beberapa syarat, di antaranya ialah sebagai berikut:

  1. Antara ijab dan juga qabul tidak diselingi oleh perkataan yang tidak berkaitan dengan tuntutan nikah, maslahat nikah, dan sunnah di dalam akad nikah. Oleh karenanya itu akan menjadikan seolah-olah seseorang menjadi keluar dari jawaban akad tersebut.
  2. Di antara kedua ijab dan juga qabul harus sejalan maksud beserta artinya. Sehingga antara keduanya mesti sejalan.
  3. Ijab dan juga qabul tersebut tidaklah digantungkan dengan apapun, misalnya apabila menikah karena ketentuan tertentu seperti seorang ayah mau menikahkan anaknya dengan lelaki apabila lelaki tersebut memiliki keturunan laki-laki dan lain sebagainya.
  4. Akad atau ijab qabul yang dilakukan tidak boleh menyebut batas waktu. Contoh misalnya seperti kawin kontrak dan lain sebagainya.
  5. Akad tersebut tidak diperkenangkan menyebutkan suatu syarat yang dapat merusak tujuan daripada pernikahan.
  6. Wali dan juga calon suami harus tetap di dalam keadaannya, diawali dengan akad nikah sampai selesai. Apabila diketahui salah satu dari keduanya pingsan atau gila sebelum akad tersebut selesai, maka pernikahan tersebut dinyatakan tidak sah atau batal.

Itu merupakan rukun nikah pertama yang harus dipahami oleh seseorang ketika melakukan ijab qabul.

Dalam konteks ini sebaiknya baik itu wali atau mempelai pria benar-benar memperhatikan akadnya supaya tidak salah ucap dan lain sebagainya.

2. Rukun Nikah: Ada Mempelai Pria

Rukun nikah yang selanjutnya yaitu adanya mempelai pria.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Mulia dan juga sangat memuliakan hambanya di dalam asmaul khusna.

Aturan yang terdapat di dalam Islam adalah perkawinan yang dilakukan oleh laki-laki dengan perempuan guna memuliakan kehidupan dan keturunan mereka.

Dan jika berbeda dari itu, maka hukumnya tidak boleh.

Syarat-Syarat Menjadi Mepelai

Pada dasarnya, syarat-syarat yang harus dipenuhi baik itu oleh laki-laki ataupun perempuan saat melangsungkan akad nikah adalah sebagai berikut:

  • Keduanya memiliki identitas sangat jelas dan dapat dibedakan dengan manusia yang lain.
  • Agama kedua bela pihak sama-sama Islam.
  • Di antara keduanya tidak berada dalam kondisi terlarang untuk melakukan pernikahan.
  • Pernikahan hanya diizinkan bila antara pria dan juga wanitanya telah dewasa.

Syarat Khusus Untuk Mepelai Pria

Adapun untuk pria sendiri ada syarat khusus yang wajib ia penuhi, yakni sebagaimana berikut ini:

  • Ia merupakan seorang muslim dan mukallaf (yakni berakal sehat, baligh dan merdeka).
  • Mempelai bukanlah mahram dari calon istri.
  • Tidak menikah karena keadaan terpaksa.
  • Orangnya sudah jelas adanya.
  • Tidak dalam proses melakukan ibadah haji.
  • Adanya Mempelai Wanita.

3. Rukun Nikah: Adanya Mepelai Wanita

rukun nikah adanya kedua mepelai
pixabay.com

Di samping rukun nikah berupa adanya mempelai pria, rukun nikah yang selanjutnya ialah adanya mempelai wanita.

Oleh karenanya, Anda yang merupakan mempelai wanita harus memenuhi beberapa syarat khusus sebelum melangsungkan pernikahan. sebagai berikut:

  • Muslimah yang telah mukallaf.
  • Tidak dalam keadaan berhalangan syar’i atau ia tidak bersuami, tidak sedang ada dalam masa iddah dan ia juga bukan mahram dari calon suami.
  • Tidak menikah karena keadaan terpaksa.
  • Orangnya jelas dan bisa dibedakan.
  • Tidak sedang melakukan ibadah haji.

Rukun nikah yang kedua dan ketiga saling berkaitan dengan kedua mempelai yang mesti sama-sama jelas dan benar-benar tidak dipaksa saat melangsungkan pernikahan.

4. Rukun Nikah: Adanya Wali

Rukun nikah yang ke empat di dalam sebuah pernikahan Islam ialah adanya wali.

Wali menjadi syarat yang amatlah penting di dalam sebuah pernikahan serta perkawinan. Hadirnya wali menjadi syarat mutlak yang tidak dapat ditawar lagi.

Hal ini berdasar dengan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang artinya:

“Tidak ada sebuah pernikahan tanpa hadirnya wali”

Syarat Seorang Wali Nikah

Nah, wali sendiri juga bukan sembarangan. Ada syarat dan ketentuan khusus yang mesti diikuti oleh seorang wali.
Berikut adalah beberapa syarat seorang wali di dalam sebuah pernikahan yang harus diperhatikan:

  • Seorang muslim, laki-laki dan mukallaf (berakal sehat, baligh dan merdeka).
  • Mampu adil.
  • Tidak berada dalam keadaan terpaksa.
  • Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
  • Mempunyai perwakilan.

Hadirnya seorang wali dalam sebuah pernikahan memiliki peranan yang sangat penting.

Seorang perempuan yang sudah menikah tanpa adanya wali, maka sudah dijamin bahwa pernikahan tersebut dinyatakan tidaklah sah. Hal ini berdasar pada hadis Nabi yang artinya adalah sebagai berikut:

“Wanita mana saja yang tidak dinikahkan oleh seorang walinya, maka nikah nya batal, nikah nya batal”

DI dalam KHI pasal 20 ayat 2 juga disebutkan bahwa wali ada dua jenis secara garis besarnya. Berikut bunyi dari pasal tersebut ialah

“Wali nikah terdiri dari wali nasab dan wali hakim”.

5. Rukun Nikah: Ada Dua Saksi

Meski semua orang hadir dan melihat secara langsung prosesi akad nikah, namun di dalam Islam mensyaratkan adanya dua orang saksi yang harus jujur dan adil supaya pernikahan tersebut menjadi sah. Meskipun hakikatnya semua yang hadir di acara tersebut adalah saksi.

Menurut pasal 25 dan 26 KHI disebutkan bahwa:

“Bahwa boleh ditunjuk menjadi saksi di dalam akad nikah merupakan seorang laki-laki yang muslim, adil, baligh, dan ingatannya tidak terganggu serta tidak tuna rungu ataupun tuli”

“Saksi wajib yang hadir kemudian menyaksikan secara langsung prosesi akad nikah serta menandatangani akta nikah di mana dilangsungkan akad nikah tersebut”

Bahkan, berdasarkan pendapat dari Umar, pernikahan yang dilaksanakan tanpa seorang saksi, maka pelakunya bisa dirajam jika mereka sudah terlanjur melakukan suatu hubungan suami istri.

Syarat-Syarat Menjadi Saksi Pernikahan

Nah, saksi sendiri juga mempunyai syarat-syarat khusus, di antaranya adalah sebagai berikut ini:

  • Seorang muslim laki-laki dan mukallaf.
  • Seorang yang adil.
  • Seorang yang mampu melihat dan juga mampu mendengar.
  • Orang yang tidak dalam keadaan terpaksa.
  • Orang yang mengerti bahasa yang dipakai saat ijab qabul.
  • Tidak sedang melakukan ibadah haji.

6. Rukun Nikah: Mahar

mahar adalah rukun nikah
pixabay.com

Rukun nikah yang selanjutnya ialah mahar. Berikut ini merupakan beberapa syarat dan juga ketentuan terkait mahar yang bisa dijadikan tambahan ilmu Anda.

1. Mahar adalah suatu pemberian wajib yang tidak bisa diganti dengan jenis barang yang lainnya.

Yang memberikan mahar ini ialah suami kepada istri, baik itu diberikan sebelum, sesudah maupun pada saat akad nikah berlangsung.

Hal ini sama dengan hadis Nabi yang artinya adalah:

“Berikahlah mahar atau mas kawin kepada mempelai wanita yang engkau nikahi sebagai bentuk pemberian dengan penuh keikhlasan. Kemudian apabila mereka menyerahkan kepadamu sebagian dari mas kawin tersebut dengan sesuka hati, maka ambillah pemberian itu sebagai makanan yang sedap dan sangat baik akibatnya”

2. Mahar yang diberikan kepada istri sebagai hal yang wajib tersebut nantinya menjadi hak milik istri, tidak menjadi hak milik mertua.

3. Mahar yang tidak dibayarkan secara tunai pada waktu akad nikah maka sesudah adanya persetubuhan antara suami dan istri wajib segera dilunasi.
4. Mahar bisa dinikmati suami dan istri apabila sang istri memberikannya secara penuh kerelaan.
5. Adapun kadar dari mahar sendiri tidak memiliki batasannya dan nilainya.

Ajaran Islam memberikan kadar ini berdasar dengan adat dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat.

Boleh-boleh saja memberi mahar dalam jumlah yang sedikit namun harus tetap berbentuk, memberikan nilai serta manfaat.

Demikianlah penjelasan singkat seputar pernikahan (hukum nikah, rukun nikah, dll), semoga bermanfaat serta dapat menjadi ilmu tambahan bagi anda dalam mempersiapkan pernikahan kelak. Terima kasih.

Leave a Comment